Tahun Politik itu Tahun Penuh Dosa - Marlius Telaumbanua

Berisi Tentang Info Edukasi, Nias dan Hasil Karya

iklan banner

Minggu, 06 September 2015

Tahun Politik itu Tahun Penuh Dosa

Sebuah judul yang saya pilih sembari menggerakan mouse mengklik dan membaca beberapa komentar para netizen ketika membela para jagoannya yang sedang dan akan bertarung mendapatkan kursi kekuasaan di Pilkada Serentak 9 Desember 2015 mendatang. Hal ini sangat menyedihkan dimana mungkin tanpa atau sadar komentar sudah mengarah pada saling mempertahankan pendapatkan bahkan tak jarang hujatan dan makian jadi bacaaan setiap membaca komentar baik di status yang di tuliskan didinding salah satu media sosial terkemuka saat ini maupun yang dituliskan di grup atau forum-forum yang ada di dunia maya.
Sumber Foto: medianusantara.com

Akun-akun palsu di media sosial "bergentayangan" di ikuti caci dan makian sudah menjadi hal yang seakan-akan "dibenarkan" bahkan darah terkadang mengucur sia-sia demi membela para kandidat masing-masing, dimana hampir tak sadar bahwa sesungguhnya didunia ini tak ada yang sempurna, dimana pada akhirnya kelak tidak jarang kekecewaan muncul, aksi demonstrasi dan hal lainnya. Namun demikian, apa hendak dikata kata-kata sudah terdorong keluar dan bahkan sudah melukai yang telah meninggalkan bekas, 

Belum lagi janji-janji kampanye yang tidak jarang hanya sekedar janji, pemilihan singkatan dan salam kampanye yang pada akhirnya hanya isapan jempol belaka, bahkan ada yang sesumbar mengatakan membasmi korupsi malah akhirnya masuk penjara ikutan korupsi, ada juga yang sesumbar mengatakan menciptakan aparat yang jujur dan adil namun lagi-lagi hanya sekedar cuap-cuap, bahkan ironis lagi kekuasaan akan dijadikan peluru ganas yang sangat mematikan dalam mengintervensi demi kepentingan individu dan kelompok pribadi, slogan "PRO RAKYAT" hanya slogan belaka, dimana MUNAFIK adalah kata yang tepat menyebutnya, lagi-lagi katanya "Itu biasa dalam Politik".

Ilmu agama dan etika sudah raib ditelan semangat yang kebablasan, dimana tidak jarang apapun itu wajib dilakukan benar atau tidak yang penting duduk.

Akhirnya saya pun sedih berharap pilkada ini segera selesai agar damai muncul kembali dan menghasilkan pemimpin yang pro rakyat dan mementingkan kepentingan umum dibanding kepentingan pribadi. 

Penulis:
Marlius Telaumbanua

Comments

Silahkan berikan komentar sesuai topik.
EmoticonEmoticon