Bunga Anggrek Nias - Marlius Telaumbanua

Berisi Tentang Info Edukasi, Nias dan Hasil Karya

iklan banner

Minggu, 20 Maret 2011

Bunga Anggrek Nias

Berbekal penjelasan teknis dasar fotografi alam Riza Marlon (Om Chaca) dan informasi sekitar tanaman anggrek dari Dr Ria Novida Telaumbanua, saya bersama dengan tim peserta workshop yang difasilitasi oleh Yayasan Delasiga terjun lapangan berburu foto. 

Dengan mengendarai dua buah mobil panitia, saya dan teman-teman berangkat sekitar pukul 08.30 WIB dari Hotel Miga Beach, Gunungsitoli. Ada 11 orang peserta ikut dalam rombongan kami. Kak Chaca, demikian kami memanggil Riza Marlon dan Sakti Simorangkir, penanggungjawab acara menjadi pendamping. 

Kak Ria (Dr Ria Novida Telaumbanua-red) tak ikut. Pagi itu ia mesti berunding dengan para pengurus Yayasan Delasiga menyangkut sebuah rencana kegiatan lain. Sore hari ia mesti segera kembali ke Medan. Para peserta yang telah berkumpul semenjak pada pukul 07.30 nampak sudah tak sabar. 

Kami ingin cepat-cepat sampai lokasi perburuan foto di desa Lasara Sowu kecamatan Gunungsitoli Utara. Untuk bisa mencapai lokasi berketinggian sekitar 1000 meter diatas permukaan laut itu, kami mesti menggunakan kendaraan bermotor selama 30 menit. Sampai di suatu tempat, kami mesti menitipkan kendaraan lalu berjalan kaki selama 45 menit. 

Tibalah para peserta di sebuah hutan belukar yang kaya akan beragam pohon dan tanaman liar. Beberapa penduduk desa menjadi petunjuk jalan, mereka membimbing kami mencari tanaman anggrek yang melekat di batang-batang pohon. 

Beberapa jenis anggrek yang disebut-sebut dalam sesi pembekalan bisa kami temukan di sini. Salah satunya adalah anggrek tanah kebetulan sedang berbunga pada saat itu. Tak semuat berjalan mulus. Sebagian peserta sulit mengerjakan tugas mencari tanaman anggrek jenis-jenis lainnya. Barang kali jenis anggrek itu ada diantara tanaman-tanaman yang mereka temui namun tak sedang berbunga. 

Para peserta memang tidak punya bekal pengetahuan soal tanaman anggrek yang cukup Tak heran bila mereka mengalami kesulitan mengidentifikasi tanaman yang sedang tidak berbunga. Gua Kelelawar Setelah sejam berada di satu lokasi untuk mempraktikkan teknik-teknik fotografi alam liar dan identifikasi anggrek, kami bergerak menuju sebuah goa. Penduduk di sana menyebutnya Togi Mbogi, atau goa kelelawar. 

Para peserta dengan penuh kehati-hatian satu persatu memasuki mulut gua. Masing-masing telah membekali diri dengan lampu senter. Tak boleh sembarangan di sini, selain gelap gulita, lingkungan di dalam amat licin. Sesuai dengan namanya, gua tersebut memang telah menjadi sarang ribuan kelelawar. 

Ada beberapa ruangan yang cukup besar, dan lorong-lorong di dalamnya. Berbagai macam serangga ada di sana seperti kalajengking, jangkrik, laba-laba dan hewan yang mirip kelabang. Salam Lestari Para peserta sangat kagum akan temuan-temuan mereka di lapangan. Mereka berharap kegiatan ini dilanjutkan lebih terarah dan terprogram di waktu mendatang. 

Kekayaan tanaman anggrek di hutan Nias tentu mesti disosialisasikan kepada masyarakat. Ini penting agar mereka paham arti tanaman anggrek, budidaya tanaman anggrek, bahkan konservasi hutan. Hal ini sangat dibutuhkan dan cukup bermanfaat bagi masyarakat. Selain sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian, publikasi kekayaan flora dan fauna tentu akan menarik perhatian khalayak ramai. Pada akhirnya akan juga berpengaruh pada peningkatan ekonomi masyarakat dimasa yang akan datang. Akhir kata saya mengucapkan mari melestarikan hutan dimana kita berada, karena hutan adalah bagian dari kehidupan dunia. 

Salam Lestari…!!!! 

sudah diterbitkan: di www.nias-bangkit.com 
Comments

Silahkan berikan komentar sesuai topik.
EmoticonEmoticon