Marlius Telaumbanua

Berisi Tentang Info Edukasi, Nias dan Hasil Karya

iklan banner
[recent]

Selasa, 21 April 2020

Quiz 1 (Possesive Pronoun)

Quiz dibawah ini terdiri dari 8 soal dengan opsi jawaban sebanyak 4 (empat) dimasing-masing soal, jika anda menjawab benar sebanyak 6 dari 8 soal, maka silahkan lanjutkan ke pembelajaran berikutnya, namun jika tidak silahkan bahas kembali materi yang sudah dipelajari sebelumnya.

Sebelum dilanjutkan, untuk diketahui bersama, quiz ini saya buat untuk siswa kelas VII (Tujuh) SMP Negeri 1 Tuhemberua sebagai penugasan belajar dirumah. 

Silahkan menjawab quiz dengan mengklik jawaban yang menurut anda paling tepat dengan memperhatikan pembelajaran sebelumnya.
Jika anda menjawab dengan benar ataupun salah otomatis akan disampaikan, jika misalnya dalam pemberitahuan anda dinyatakan salah dalam menjawab soal, silahkan ulangi pembelajaran yang telah diberikan, KLIK DISINI.

Selamat Mengerjakan 



1. Diana borrowed one of my dictionaries. She lost ___ 
(a) My (b) Her (c) Hers (d) Mine
2. Do you like his outfit today? I really like ___ 
(a) his (b) Him (c) Mine (d) Yours
3. I love my own handwriting? Do you love ____? 
(a) Your (b) Yours (c) Mine (d) Your're
4. Whose sling bag is it? It might be ___
(a) Your (b) Your're (c) Her (d) Hers
5. My sister's mask is pink, ___ is black. 
(a) Hers (b) Theirs (c) Mine (d) Hers
6. There are many books at the corner, the books are ____ . 
(a) Hers (b) Theirs (c) Their (d) They 
7. There are two flowers on the table, white and red. The white flower is ___ and the red one is yours. 
(a) Your(b) Theirs (c) Mine (d) They 
8. The Binder is ___
(a) Your(b) Theirs (c) Mine (d) They 
Penyusun:
Marlius Telaumbanua

Contoh Kalimat Possesive Pronoun (Daring 2)

Seperti halnya yang telah dibahas pada pembelajaran sebelumnya tentang Possesive Pronoun dan kegunaannya, disini saya kembali memberikan beberapa contoh kalimat yang menggunakan possesive pronoun. 

1. This is my cat, not yours 
2. It is mine
3. The black hat is hers, but the pink is his
4. Intan is my close friend while Rani is theirs
5. Whose sling bag is it? It might be hers

Setelah melihat beberapa contoh diatas, silahkan uji kemampuan anda mengerjakan quiz yang telah saya siapkan dengan mengklik TAUTAN INI

Minggu, 01 Maret 2020

Bolehkah Guru Mencukur Rambut Siswa?

Marlius Telaumbanua
Menjadi guru bukanlah hal yang mudah, selain sebagai sosok yang dijadikan sebagai panutan untuk di guru dan ditiru oleh para peserta didik, juga harus berhati-hati dalam melakukan tindakan dalam hal mendisiplinkan peserta didik baik didalam proses pembelajaran maupun diluar ruangan. 

Hal ini sangat berkaitan erat dengan dunia dan Pemerintah Indonesia yang saat ini semakin giat dalam melindungi anak untuk mendapatkan hak-haknya untuk menjadi manusia yang merdeka yang terbebas dari segala jenis kekerasan dimulai dari kekerasan verbal, psikis dan seksual dan penelantaran. 

Ini ditandai dengan sejumlah UU di terbitkan diantaranya UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yang selanjutnya mengalami beberapa perubahan yang kemudian dituangkan pada UU Nomor 35 Tahun 2014  tentang perubahan UU Nomor 23 Tahun 2002 serta Perppu Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002, yang pada intinya berisi uraian tentang hak-hak yang harus dimiliki masing-masing anak dan perlindungannya.

Tidak jarang saat ini ada pro dan kontra yang terjadi atas kasus-kasus yang melibatkan guru akibat “mendisiplinkan” siswa yang mengarah pada dugaan kriminalisasi guru, sehingga guru seakan “terjepit” dan tidak leluasa dalam melakukan tindakan menjadikan para siswa lebih baik baik dari sisi kecerdasan emosional maupun kecerdasan intelektual.

Disini saya mulai dari sosok seorang guru yang di jelaskan dalam Kode Etik Guru yang dikeluarkan pada Tahun 2008 oleh Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional bekerjasama dengan PB PGRI dimana didalam pasal 6 Ayat (1) huruf a. Guru berperilaku secara profesional dalam melaksanakan tugas didik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi proses dan hasil pembelajaran yang kemudian pada huruf f dituliskan “Guru menjalin hubungan dengan peserta didik yang dilandasi rasa kasih sayang dan menghindarkan diri dari tindak kekerasan fisik yang di luar batas kaidah pendidikan”. 

Ini ditegaskan pada ayat yang sama di huruf  i dimana dituliskan bahwa Guru menjunjung tinggi harga diri, integritas, dan tidak sekali-kali merendahkan martabat peserta didiknya, serta di huruf k dinyatakan bahwa Guru berperilaku taat asas kepada hukum dan menjunjung tinggi kebutuhan dan hak-hak peserta didiknya.

Hal ini sejalan dengan UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, dimana pada pasal 14 huruf f dinyatakan bahwa guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan/ atau sanksi kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang- undangan.

Didalam uraian tersebut diatas jelas ditegaskan bahwa guru dalam memberikan tindakan ataupun sanksi kepada siswa harus berlandaskan pada kasih sayang dan sesuai dengan kaidah pendidikan yang dapat dimaknai bahwa sangat jelas dilarang tindakan yang semena-mena atau sanksi yang dapat melanggar hak-hak anak seperti yang diuraikan dalam UU Nomor 35 Tahun 2014 di Pasal 1 Ayat 2 berbunyi “Perlindungan Anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi Anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”.

Pasal 1 ayat (2) tersebut diatas selanjutnya dijelaskan didalam ayat (16) yang berbunyi bahwa “Kekerasan adalah setiap perbuatan terhadap Anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum”, yang kemudian di tegaskan pada pasal 9 ayat (1a) Setiap Anak berhak mendapatkan perlindungan di satuan pendidikan dari kejahatan seksual dan Kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain.

Kembali pada contoh kasus mencukur rambut siswa yang nota bene bisa dikatakan dalam pandangan hukum sebagai tindakan kekerasan karena berisi pemaksaan terhadap anak yang dapat berdampak kondisi psikis anak sehingga guru dapat terjerat aturan yang berlaku meskipun dalam pandangan lain dianggap sebagai cara untuk mendisiplinkan siswa. 

Oleh karena itu, seperti yang penulis uraikan diatas, sebagai guru dalam mendidik siswa harus menghindari semaksimal mungkin tindakan “mendisiplinkan” siswa dengan cara seperti itu dengan melakukan pendekatan lain seperti halnya komunikasi dengan orang tua siswa, pendekatan persuasif individualis dan beberapa pendekatan lainnya, karena jika tidak dapat dipastikan berurusan dengan aparat penegak hukum.

Namun demikian, tentunya kita semua berharap kasus kasus yang berkaitan dengan tujuan mendisiplinkan anak dapat diselesaikan secara kekeluargaan demi generasi penerus bangsa yang lebih baik. 


Penulis: Marlius Telaumbanua
Pegiat Pendidikan 


Sabtu, 07 Desember 2019

Penggunaan Demonstrative Pronoun (That, This, Those dan These)

Demonstrative Pronoun merupakan yang menggunakan parameter number (jumlah) dan distance (jarak). Noun yang digantikan umumnya berupa benda, hewan namun dapat pula berupa orang atau hal.

Dalam penggunaannya demonstrative pronoun terbagi dua dalam bentuk menunjukkan jumlah yakni bentuk singular (that and this) dan bentuk plural (these and those). Sementara itu jika dilihat dalam bentuk jarak maka demonstrative pronoun juga terbagi dua macam yakni jarak dekat (this and these) dan jarak jauh (that and those).

This (ini)
This berfungsi untuk menunjukkan suatu benda yang jaraknya sangat dekat dengan pembicara dan berjumlah satu/tunggal (singular) 

Contoh: 
This is my bag (ini adalah tas saya)
Hello Budi, this is my brother his name Andi (Halo Budi, ini saudara saya, namanya Andi) 

That (itu)
That berfungsi untuk menunjukkan suatu benda yang jaraknya sedikit lebih jauh dari pembicara dan berjumlah satu/tunggal (singular)

Contoh:
That is my bag (itu adalah tas saya) "tas yang ditunjuk agak jauh dari tempat pembicara"
That is my guitar (itu adalah gitar saya)

These (ini) 
These berfungsi menunjukkan benda yang jaraknya sangat dekat dengan pembicara dan berjumlah lebih dari satu/jamak (plural)

Contoh:
These are my bag (ini adalah tas-tas saya)

Those (are)
Those berfungsi menunjukkan benda yang jaraknya jauh dari pembicara dan berjumlah lebih dari satu /jamak (plural)

Disini perlu diketahui bahwa dalam pembentukan kalimat, that dan this dipasangkan dengan kata bantu tobe 'is' sedangkan untuk demonstrative pronoun these dan those dipasangkan dengan kata bantu tobe 'are'.

Rabu, 27 November 2019

Selamat Berpisah Wahai Sahabatku


Marlius T. | @Kubu - Berastagi

Kesempatan berjumpa denganmu tak pernah sedikitpun tersirat dibenakku

Bahkan tak pernah sedikitpun menjadi bayangan diantara langkahku

Sahabatku...

Semua terasa laksana mimpi
Ya.. mimpi yang dianugerahkan oleh Pelangi di siang terik

Kau sosok yang tak akan pernah mungkin mampu ku gapai, meski engkau serasa memberi harapan tak akan pernah menjauh..

Kau mendekat dengan segala keindahan didalam gumpalan awan dan sepoi-sepoi dipenuhi cinta dan kasih yang kau curahkan

Seolah aku pangeran penuh mahkota engkau anggap, Seolah aku cerminan keindahan yang tiada cela

Tak terhitung berapa banyak gulir waktu yang dilalui bersama, tak terhitung berapa banyak kata yang telah terucap. 

Tak mampu tertampung segala tawa yang tercipta dan tak satu detikpun mampu aku tak mengingat karena rangkaian huruf dan senyuman selalu menghiasi mengalahkan batas-batas dalam ruang waktu

Baris demi baris kata yang menjadi kalimat cerita pengaduan tentang keseharian ketika aku dan kamu ternyata sama hanya karena 'alam' dan tubuh yang berbeda. 

Aku terbuai oleh kesempurnaan, Kesempurnaan yang jadi cerminanmu meski tidak jarang aku terpaksa mendengar 
"Hei siapa kau yang tak tahu diri itu"  Begitu sayup-sayup kudengar sembari melihat ke arahku. 

Namun aku tak peduli karena kau sahabatku selalu ada untukku,

Berat rasanya, cerah itu berganti kelabu, kicauan burung berganti erangan hujan dan angin kencang.

Laksana waktu secepat membalikkan telapak tangan, tanpa kehangatan dikala fajar sedang menyingsing di ufuk timur.

Terimakasih sahabatku, terimakasih atas senyuman, warna dan canda tawa yang pernah kita ukir bersama diatas pasir putih yang akhirnya hilang disapu ombak. 

Kini aku sendiri seperti kamu, kembali ke dunia yang sebelumnya kutempati dan kujalani.

Dalam relung hati kutermenung meratapi lara dengan Kelirihan yang tak pernah ku mengerti karena waktu telah tiba saatnya harus berpisah. 

Tak ada lagi kata yang mampu menulis betapa aku tak menginginkan perpisahan ini, tapi itulah hidup ibarat siang dan malam, ibarat tangis dan tawa. 

Selamat berpisah, salam persahabatan.

Medan, 
Rabu, 27 November 2019 
Marlius Telaumbanua